Pada pelajaran awal madrasah dinniyah (dasar), kita telah mengetahui bahwa Gusti Allah swt akan meninggikan orang-orang yang memiliki ilmu (al-‘ilm) beberapa derajat. “Yarfa’illahul
ladzina aamanu minkum utul ‘ilma darojah”. Atau bahkan pada dalil penjelas tentang
keutamaan menuntut ilmu, yang berupa hadits tentang keutamaan mencari ilmu tholabul ‘ilmi faridlotun ‘ala kulli
muslimin wal muslimat (mencari ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim
laki-laki dan muslim perempuan; uthlubul
ilma minal mahdi ilal lahdi (tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang
lahat), uthlubul ‘ilma walau bis sin (tuntutlah
ilmu sampai ke negeri China) dan dalil pendukung hadits dalam kitab ta’lim muta’alim, diantaranya:
perbandingan ‘alim dan abid yang berbanding lurus dengan
rembulan purnama dan ribuan bintang di langit, atau keutamaan ‘alim dibanding
‘abid yang berbanding lurus dengan satu orang dan puluhan ribuan orang, berat
amalannya di hadapan sang Khaliq.
Terdapat korelasi yang signifikan antara alladzina aamanu utul ‘ilma darojah
dengan majelis dzikir. Majelis dzikir memiliki keutamaan, yang telah
disampaikan oleh imam Bukhari bahwa majelis dzikir dikelilingi oleh puluhan
ribu malaikat-malaikat pada setiap kegiatannya dan nanti di akhirat berada pada
taman taman yang dikelilingi oleh bidadari atau istilah lain dari surga.
Dari Abu
Hurairah, dia berkata: Rasulullah saw bersabda:
”Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki malaikat-malaikat yang
berkelana di jalan-jalan mencari Ahli Dzikir. Jika mereka telah mendapatkan
sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah, mereka duduk bersama dengan
orang-orang yang berdzikir. Mereka saling mengajak: ‘Kemarilah kepada hajat
kamu’. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap
mereka sehingga langit dunia. Kemudian Allah Azza wa Jalla bertanya kepada
mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka, ’Apa yang diucapkan
oleh hamba-hambaKu?’ Para malaikat menjawab, ’Mereka mensucikan-Mu (mengucapkan
tasbih: Subhanallah), mereka membesarkanMu (mengucapkan takbir: Allah Akbar),
mereka memujiMu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkan-Mu. Allah
bertanya, ’Apakah mereka melihatKu?’ Mereka menjawab,’Tidak, demi Alah, mereka
tidak melihatMu’. Allah berkata,’Bagaimana seandainya mereka melihatKu?’ Mereka
menjawab,’Seandainya mereka melihatMu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih
kuat kepadaMu, lebih mengagungkan kepadaMu, lebih mensucikan kepadaMu’. Allah
berkata,’Lalu, apakah yang mereka minta kepadaKu?’ Mereka menjawab, ’Mereka
minta surga kepadaMu’. Allah
bertanya, ’Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab,’Tidak, demi Alah, Wahai
Rabb, mereka tidak melihatnya’. Allah berkata,’Bagaimana seandainya mereka
melihatnya?’ Mereka menjawab,’Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka
menjadi lebih semangat dan lebih banyak meminta serta lebih besar keinginan’.
Allah berkata: “Lalu, dari apakah mereka minta perlindungan kepadaKu?” Mereka
menjawab,”Mereka minta perlindungan dari neraka kepadaMu.” Allah
bertanya,”Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab,”Tidak, demi Allah, wahai
Rabb. Mereka tidak melihatnya.” Allah berkata, ”Bagaimana seandainya mereka
melihatnya?” Mereka menjawab,”Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka
menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap neraka).” Allah berkata,
”Aku mempersaksikan kamu, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” Seorang malaikat
diantara para malaikat berkata,”Di antara mereka ada Si Fulan. Dia tidak
termasuk mereka (yakni tidak ikut berdzikir, Pent). Sesungguhnya dia datang
hanyalah karena satu keperluan.” Allah berkata,”Mereka adalah orang-orang yang
duduk. Teman duduk mereka tidak akan celaka (dengan sebab mereka).” (HR
Bukhari, no. 6408)
Dalam tinjauan historis, jauh sebelum Indonesia
merdeka, para waliyullah dan pedagang Arab, Gujarat, Yaman, Persia telah masuk
ke Indonesia untuk menyebarkan Islam dan konsep Thoriqoh serta majelis
dzikirnya. Martin Van Bruinessen, seorang antropolog Belanda, mengemukakan
kemajuan dalam beberapa tulisannya mengenai kaum santri yang berkembang di
Indonesia. Ungkapan bangsawan Marcopollo yang berlayar dengan kapal; setelah
kedatangan sebelumnya ke Indonesia, mengemukakan bahwa Islam yang berkembang
paling cepat, setelah kedatangan Sunan Ampel (Raden Rahmatullah) ke tanah Jawa
atas permintaan Brawijaya, untuk mengatasi beberapa masalah di wilayah
Majapahit, dan kemudian menetap di Jawa membangun pondok pesantren yang
berhasil “menelurkan” ulama-ulama sholih lain.
Tentu tak asing di telinga kita, para waliyullah
yang termahsyur ketenaran dan peringatannya di Indonesia atau sering disebut
dengan dewan Walisongo. Yang secara perlahan (on going process) berhasil menggabungkan konsep keberagamaan dengan
realitas adat masyarakat yang ada pada waktu itu, menganut pemahaman ateisme
dan dinamisme. Dimana kebiasaan sajen
masih dipercaya sebagai sebuah maturnuwun
kepada penguasa gaib sekitar atau “sesepuh”; masih sangat kental berlaku di
masyarakat hingga saat ini. Dapat diubah cara pengemasan acara oleh para auliya’illah pada waktu itu ke dalam
konsep pembacaan yasin, tahlil dan sholawat yang mana nasi dan lauknya tidak diperuntukkan untuk sajen lagi, namun dapat dimakan sebagai
jamuan sesama berupa nasi ambeng atau
berkat, bukan diberikan kepada “sesembahan
yang tak jelas” tadi.
Atau kedatangan rombongan muslim China ke Indonesia,
salah satunya kedatangan Tan Kwie Djan ke Pekalongan dalam babad mataram
dikemukakan setelah mataram kemudian Pekalongan. Tan Kwie Djan merupakan seseorang
yang dapat membangunkan topo kalong
Ki Bahurekso dari aktivitas bertapanya. Kedatangan Tan Kwie Djan di Pekalongan
tentu ada korelasinya dengan keberadaan kampung Muslim China di Purbalingga; di
kemudian hari dipimpin oleh Kyai Haji Babailong (China) yang saat memiliki
keturunan di Pekalongan.
Saat ini wadah secara organisatoris yang menaungi
majelis dzikir secara de jure & de
facto adalah Nahdlatul Ulama dengan lembaga Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al-Muktabarah An-Nahdliyah (JATMAN) yang mewadahi dan menaungi aliran
thoriqoh muktabarah yang memiliki silsilah sanad yang jelas baik secara nasab para
pemimpinnya maupun sanad ilmu. Sebagai contoh keberadaan thoriqoh muktabaroh
seperti: thoriqoh Syadziliyah pimpinan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali
bin Yahya (Pekalongan) selaku pimpinan JATMAN; Majelis Dzikir Thoriqoh
Qodiriyah wa Naqshabandiyah pimpinan Abah Anom (Suryalaya); atau Majelis
Dzikrul Ghofilin pimpinan Gus Miek (Tambak Beras) yang terkenal dengan Jantiko Mantap, berupa sema’an Qur’an,
atau Majelis Dzikir pimpinan Kyai Asrori Ishaqi Jawa Timur. Yang tenar di media
online dan memiliki beberapa situs web resmi, yakni keberadaan Thoriqoh
Naqshabandi pimpinan Syaikh Nazhim Adil Haqqani qs, yang tadinya bernama
Thoriqoh Naqshabandi Haqqaniyah berubah nama menjadi Thoriqoh Naqshabandi
Nazhimiya setelah Syaikh Nazhim qs wafat, dipimpin oleh Syaikh Hisyam
Al-Kabbani qs. Thoriqoh terakhir ini memiliki zawiyah hampir di seluruh
Indonesia beserta para pengikutnya.
Jelas di sini, selain dari pentingnya belajar di
sekolah, mengikuti kegiatan thoriqoh yang muktabaroh merupakan hal yang sangat penting.
Di sinilah tata cara adab dibentuk, bertawashul melalui kirim al-fatihah
merupakan bentuk adab sebelum berdzikir, begitu pula kepada guru mursyid harus sami’na wa atho’na.
Sahabat terdekat Rasulullah saw berthoriqoh. Para auliya’illah
yang berkontribusi terhadap keberadaan Indonesia saat ini, mereka juga
berthoriqoh, artinya mereka juga berdzikir tiap hari. Tentu tidak meninggalkan
kewajiban-kewajiban kita sehari-hari, kerja dan menafkahi anak-istri.
Keberadaan dan keberlangsungan majelis dzikir ini sangat
perlu demi proses kehidupan sosial di Indonesia dan kesinambungan perilaku
akhlaq generasi penerus bangsa, karena di dalamnya mengajarkan adab (sopan
santun) dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Tentu hal ini sejalan dengan sila
kelima pancasila, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Beradab adalah
memiliki adab, baik secara hubungan vertikal maupun horizontal. Adab merupakan
buah dari taqwa atau kepasrahan kita kepada sang Khaliq.
Secara tak formal, banyak majelis jam’iyyah yasin tahlil; atau maulid atau
manaqib Sulthon Auliya’ Syeh Abdul Qadir al-Jaelani ra; yang masih berjalan di pelosok
kampung pedesaan dan perkotaan, yang tak masuk secara formal ke dalam
struktural ke dalam kepengurusan kaum Nahdliyin. Namun, kegiatan ini tetap ada
dan masih ada masih sekarang. Hal ini merupakan sebuah kegiatan positif yang
keberadaannya menimbulkan imbas positif.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar