Jumat, 30 Oktober 2015

ELING ELING



Pada pelajaran awal madrasah dinniyah (dasar), kita telah mengetahui bahwa Gusti Allah swt akan meninggikan orang-orang yang memiliki ilmu (al-‘ilm) beberapa derajat. “Yarfa’illahul ladzina aamanu minkum utul ‘ilma darojah”. Atau bahkan pada dalil penjelas tentang keutamaan menuntut ilmu, yang berupa hadits tentang keutamaan mencari ilmu tholabul ‘ilmi faridlotun ‘ala kulli muslimin wal muslimat (mencari ilmu wajib hukumnya bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan; uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi (tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahat), uthlubul ‘ilma walau bis sin (tuntutlah ilmu sampai ke negeri China) dan dalil pendukung hadits dalam kitab ta’lim muta’alim, diantaranya: perbandingan ‘alim dan abid yang berbanding lurus dengan rembulan purnama dan ribuan bintang di langit, atau keutamaan ‘alim dibanding ‘abid yang berbanding lurus dengan satu orang dan puluhan ribuan orang, berat amalannya di hadapan sang Khaliq.
Terdapat korelasi yang signifikan antara alladzina aamanu utul ‘ilma darojah dengan majelis dzikir. Majelis dzikir memiliki keutamaan, yang telah disampaikan oleh imam Bukhari bahwa majelis dzikir dikelilingi oleh puluhan ribu malaikat-malaikat pada setiap kegiatannya dan nanti di akhirat berada pada taman taman yang dikelilingi oleh bidadari atau istilah lain dari surga.

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari Ahli Dzikir. Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah, mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka saling mengajak: ‘Kemarilah kepada hajat kamu’. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap mereka sehingga langit dunia. Kemudian Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka, sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka, ’Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?’ Para malaikat menjawab, ’Mereka mensucikan-Mu (mengucapkan tasbih: Subhanallah), mereka membesarkanMu (mengucapkan takbir: Allah Akbar), mereka memujiMu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkan-Mu. Allah bertanya, ’Apakah mereka melihatKu?’ Mereka menjawab,’Tidak, demi Alah, mereka tidak melihatMu’. Allah berkata,’Bagaimana seandainya mereka melihatKu?’ Mereka menjawab,’Seandainya mereka melihatMu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat kepadaMu, lebih mengagungkan kepadaMu, lebih mensucikan kepadaMu’. Allah berkata,’Lalu, apakah yang mereka minta kepadaKu?’ Mereka menjawab, ’Mereka minta surga kepadaMu’. Allah bertanya, ’Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab,’Tidak, demi Alah, Wahai Rabb, mereka tidak melihatnya’. Allah berkata,’Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab,’Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih semangat dan lebih banyak meminta serta lebih besar keinginan’. Allah berkata: “Lalu, dari apakah mereka minta perlindungan kepadaKu?” Mereka menjawab,”Mereka minta perlindungan dari neraka kepadaMu.” Allah bertanya,”Apakah mereka melihatnya?” Mereka menjawab,”Tidak, demi Allah, wahai Rabb. Mereka tidak melihatnya.” Allah berkata, ”Bagaimana seandainya mereka melihatnya?” Mereka menjawab,”Seandainya mereka melihatnya, tentulah mereka menjadi lebih menjauhi dan lebih besar rasa takut (terhadap neraka).” Allah berkata, ”Aku mempersaksikan kamu, bahwa Aku telah mengampuni mereka.” Seorang malaikat diantara para malaikat berkata,”Di antara mereka ada Si Fulan. Dia tidak termasuk mereka (yakni tidak ikut berdzikir, Pent). Sesungguhnya dia datang hanyalah karena satu keperluan.” Allah berkata,”Mereka adalah orang-orang yang duduk. Teman duduk mereka tidak akan celaka (dengan sebab mereka).” (HR Bukhari, no. 6408)

Dalam tinjauan historis, jauh sebelum Indonesia merdeka, para waliyullah dan pedagang Arab, Gujarat, Yaman, Persia telah masuk ke Indonesia untuk menyebarkan Islam dan konsep Thoriqoh serta majelis dzikirnya. Martin Van Bruinessen, seorang antropolog Belanda, mengemukakan kemajuan dalam beberapa tulisannya mengenai kaum santri yang berkembang di Indonesia. Ungkapan bangsawan Marcopollo yang berlayar dengan kapal; setelah kedatangan sebelumnya ke Indonesia, mengemukakan bahwa Islam yang berkembang paling cepat, setelah kedatangan Sunan Ampel (Raden Rahmatullah) ke tanah Jawa atas permintaan Brawijaya, untuk mengatasi beberapa masalah di wilayah Majapahit, dan kemudian menetap di Jawa membangun pondok pesantren yang berhasil “menelurkan” ulama-ulama sholih lain.
Tentu tak asing di telinga kita, para waliyullah yang termahsyur ketenaran dan peringatannya di Indonesia atau sering disebut dengan dewan Walisongo. Yang secara perlahan (on going process) berhasil menggabungkan konsep keberagamaan dengan realitas adat masyarakat yang ada pada waktu itu, menganut pemahaman ateisme dan dinamisme. Dimana kebiasaan sajen masih dipercaya sebagai sebuah maturnuwun kepada penguasa gaib sekitar atau “sesepuh”; masih sangat kental berlaku di masyarakat hingga saat ini. Dapat diubah cara pengemasan acara oleh para auliya’illah pada waktu itu ke dalam konsep pembacaan yasin, tahlil dan sholawat yang mana nasi dan lauknya tidak diperuntukkan untuk sajen lagi, namun dapat dimakan sebagai jamuan sesama berupa nasi ambeng atau berkat, bukan diberikan kepada “sesembahan yang tak jelas” tadi.
Atau kedatangan rombongan muslim China ke Indonesia, salah satunya kedatangan Tan Kwie Djan ke Pekalongan dalam babad mataram dikemukakan setelah mataram kemudian Pekalongan. Tan Kwie Djan merupakan seseorang yang dapat membangunkan topo kalong Ki Bahurekso dari aktivitas bertapanya. Kedatangan Tan Kwie Djan di Pekalongan tentu ada korelasinya dengan keberadaan kampung Muslim China di Purbalingga; di kemudian hari dipimpin oleh Kyai Haji Babailong (China) yang saat memiliki keturunan di Pekalongan.
Saat ini wadah secara organisatoris yang menaungi majelis dzikir secara de jure & de facto adalah Nahdlatul Ulama dengan lembaga Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al-Muktabarah An-Nahdliyah (JATMAN) yang mewadahi dan menaungi aliran thoriqoh muktabarah yang memiliki silsilah sanad yang jelas baik secara nasab para pemimpinnya maupun sanad ilmu. Sebagai contoh keberadaan thoriqoh muktabaroh seperti: thoriqoh Syadziliyah pimpinan Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya (Pekalongan) selaku pimpinan JATMAN; Majelis Dzikir Thoriqoh Qodiriyah wa Naqshabandiyah pimpinan Abah Anom (Suryalaya); atau Majelis Dzikrul Ghofilin pimpinan Gus Miek (Tambak Beras) yang terkenal dengan Jantiko Mantap, berupa sema’an Qur’an, atau Majelis Dzikir pimpinan Kyai Asrori Ishaqi Jawa Timur. Yang tenar di media online dan memiliki beberapa situs web resmi, yakni keberadaan Thoriqoh Naqshabandi pimpinan Syaikh Nazhim Adil Haqqani qs, yang tadinya bernama Thoriqoh Naqshabandi Haqqaniyah berubah nama menjadi Thoriqoh Naqshabandi Nazhimiya setelah Syaikh Nazhim qs wafat, dipimpin oleh Syaikh Hisyam Al-Kabbani qs. Thoriqoh terakhir ini memiliki zawiyah hampir di seluruh Indonesia beserta para pengikutnya.
Jelas di sini, selain dari pentingnya belajar di sekolah, mengikuti kegiatan thoriqoh yang muktabaroh merupakan hal yang sangat penting. Di sinilah tata cara adab dibentuk, bertawashul melalui kirim al-fatihah merupakan bentuk adab sebelum berdzikir, begitu pula kepada guru mursyid harus sami’na wa atho’na.
Sahabat terdekat Rasulullah saw berthoriqoh. Para auliya’illah yang berkontribusi terhadap keberadaan Indonesia saat ini, mereka juga berthoriqoh, artinya mereka juga berdzikir tiap hari. Tentu tidak meninggalkan kewajiban-kewajiban kita sehari-hari, kerja dan menafkahi anak-istri.
Keberadaan dan keberlangsungan majelis dzikir ini sangat perlu demi proses kehidupan sosial di Indonesia dan kesinambungan perilaku akhlaq generasi penerus bangsa, karena di dalamnya mengajarkan adab (sopan santun) dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Tentu hal ini sejalan dengan sila kelima pancasila, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Beradab adalah memiliki adab, baik secara hubungan vertikal maupun horizontal. Adab merupakan buah dari taqwa atau kepasrahan kita kepada sang Khaliq.
Secara tak formal, banyak majelis jam’iyyah yasin tahlil; atau maulid atau manaqib Sulthon Auliya’ Syeh Abdul Qadir al-Jaelani ra; yang masih berjalan di pelosok kampung pedesaan dan perkotaan, yang tak masuk secara formal ke dalam struktural ke dalam kepengurusan kaum Nahdliyin. Namun, kegiatan ini tetap ada dan masih ada masih sekarang. Hal ini merupakan sebuah kegiatan positif yang keberadaannya menimbulkan imbas positif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar