Masih ingat dengan kisah cinta Romeo and Julliete? Atau kisah cinta Siti Nurbaya? Atau kisah cinta Cu Pat Kay dari seorang panglima perang yang menjadi babi; dengan ungkapan yang terkenal di masyarakat, "cinta, deritanya tiada akhir".
Acapkali atau seringkali kita menjumpai pemberitaan pasangan muda yang putus asa karena diputus hubungan oleh pacarnya, kemudian mengakhiri kehidupannya dengan cara tragis. Hal ini didasari rasa cintanya yang sedemikian mendalam kepada pasangannya tersebut. Mungkin saja karena kesamaan sifat, kesukaan terhadap perilaku, kecocokan hobi, atau pelbagai macam alasan untuk mencintainya.
Sebuah hal yang wajar, naluri insani manusia untuk menemukan pasangan agar nantinya dapat menjalani kehidupan yang damai di kemudian hari. Namun, terkadang apa yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan.
Yang parah lagi, gagalnya pernikahan gara-gara hitungan weton yang tak logis dan sesuai dengan "modernisasi".
Kisah cinta atau jalan hidup seperti ini yang kemudian hari "membekas" secara psikologis bagi si pelaku. Ungkapan lagu "cinta bertepuk sebelah tangan" nampaknya agak pas untuk muda mudi yang tak "kesampaian" mendapatkan cintanya.
Seyogyanya, kita harus menatap secara realitas bahwa ada "sutradara" selain kita yang mengatur "skenario" alur kehidupan kita. Tentu saja berdasarkan usaha. Bukan berdasarkan klenik ini itu. Tentu ada alasan yang "tersirat" dan "tersurat" dari gagalnya sebuah hubungan. Ambil hikmah positif dari kejadian itu serta berkaca dari kesalahan sebelumnya.
Romantisme akan membunuhmu
Sekarang atau esok hari
Alam gung lewang lewung lebih menarik
Daun pun jatuh dengan ijinNya
Begitupun takdir
termaktub di Lauhul Mahfuz
Bagaimana dengan lagu:
Cinta bukan hanya harta dan tahta (Ahmad Dhani).
Cinta itu soal hati (Iwan fals).
Nampaknya adigium pada lirik tersebut lebih pas dalam memahami realitas cinta.
Marilah kita berpositif thinking atas kejadian atau takdir. Tentu saja disertai dengan usaha yang maksimal dan doa yang terus menerus.
Nb: coretan ini tak bermaksud menyudutkan siapa pun, hanya ungkapan subjektif saja.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar