![]() |
| Ilustrasi Meditasi |
Dalam sebuah pencerahan agama Budha, seorang biksu
menerangkan bahwa ia setiap pagi sebelum beraktifitas, ia berniat melakukan 3
hal: pertama, menghilangkan perbuatan buruk; kedua, menambah perbuatan baik;
ketiga, mensucikan hati dan pikiran.
Bagaimana cara meluruskan niat dalam agama Budha? Dijawab
oleh biksu tersebut, bahwa bila ibarat kita menunggang kuda, setiap kali mengetahui
bahwa arah kita telah berbelok arah, maka niat harus diluruskan. Dengan keyakinan
yang kuat, maka kesulitan arah akan menjadi berkah menjadi kita, sebagai
contoh: ada orang yang menghina kita, hal ini merupakan kesempatan kita, apakah
kita akan marah dan kalah? Ataukah kita akan melatih kesabaran dari penghinaan
tersebut.
Dilihat dari orang yang menghina kita, kita tak
akan menjadi hina karena orang lain, justru kita akan menjadi hina oleh karena
perilaku kita sendiri. Kita bisa ambil nilai positif dari sebuah batang kayu.
Kemudian bagaimana caranya menghindarkan emosi dan
marah dalam kehidupan sehari-hari? Ada dua cara menghilangkannya, yakni
pertama, dengan meditasi dengan tenang dan ambil nafas. Coba kita kita amati
dalam diri kita, periksa sumbernya dari mana, apakah hati atau kepala. Kedua,
dengan meditasi yang menitik beratkan pada pernafasan dengan interval waktu 2
detik. Ambil nafas 2 detik sambil mengucap kata budha, tahan nafas 2 detik sembari
mengucap kata budha, serta keluarkan nafas 2 detik sembari mengucap kata budha.
Pikiran yang timbul dalam diri kita ibarat buih air yang memiliki riak, maka
tak akan tenang.
Bila kita bermeditasi dengan tenang dan mencoba
mengatur diri kita untuk menenangkannya maka akan tenang. Berbeda halnya dengan
orang yang emosi atau tergesa-gesa, maka irama nafasnya akan tersendat atau
bisa dikatakan tidak tenang. Begitu pula halnya dengan jantung yang emosi, tak
berirama dan tak tenang. Sumber mengaturnya pada teknik irama yang berinterval.
Orang gila atau tidak waras dapat dilihat
kondisinya, secara prinsip akibat pasti ada sebabnya, bisa karena karma, trauma
atau goncangan.
Secara umum, teknik tantrayana mencakup apa yang
ada dalam diri dan hidup manusia, meliputi: tubuh, ucapan dan pikiran.
Meditasi yang baik meliputi: pertama, tubuh dengan sikap
duduk yang baik, tubuh baik, udara masuk dan keluar lancar maka akan sehat. Di dalam
tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kedua, ucapan yang baik merupakan
doa, omani femehong. Ketiga, visualisasikan dalam meditasi, bahwa suatu yang
suci (Tuhan) menyinari kita dengan sinar yang putih memancar.
Dari kebiasaan yang baik maka kita akan berbudaya
baik. Budaya merupakan ruh jati diri suatu bangsa besar.


