Sabtu, 11 Mei 2013

Antara Otot, Akal, Pangarasan dan Hati (Bag I)

Dalam sebuah pertemuan seseorang mursyid berkata bahwa: “Otot kalahe karo akal, akal kalahe karo pangarasan, pangarasan kalahe karo ilmune gusti Alloh” (Otot kalahnya dengan akal, akal kalahnya dengan indera pengrasa, indera pengrasa kalah dengan ilmunya Allah Azza wa Jalla).
Otot adalah sebuah jaringan dalam tubuh manusia dan hewan yang berfungsi sebagai alat gerak aktif yang menggerakkan tulang. Otot diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu otot lurik, otot polos dan otot jantung. Otot menyebabkan pergerakan suatu organisme maupun pergerakan dari organ dalam organisme tersebut.
Dalam kebiasaan masyarakat jawa, istilah otot digunakan bagi mereka (kaum abangan) berkegiatan sehari-hari, semisal: mengangkat kayu, membangun rumah, memindahkan pasir. Jadi, istilah otot mencerminkan golongan kuli yang bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sedangkan akal adalah suatu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk membedakan yang salah dan yang benar serta menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung luas pengalaman dan tingkat pendidikan, formal, maupun informal, dari manusia pemiliknya. Jadi, akal bisa didefinisikan sebagai salah satu peralatan rohaniah manusia yang berfungsi untuk mengingat, menyimpulkan, menganalisis, menilai apakah sesuai benar atau salah.
Namun, karena kemampuan manusia dalam menyerap pengalaman dan pendidikan tidak sama. Maka tidak ada kemampuan akal antar manusia yang betul-betul sama.
من أرف نفسه فقد أرف ربه
Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya”.
  

PERCUMA TAUBAT...!


Ba'da Isya' Kiyai Sodron dapat undangan mengisi pengajian di salah satu rumah orang tua santri yang cukup jauh dari pesantren. Karena cuaca mendung dan sedikit gerimis, Kiyai Sodron pun memilih untuk naik taxi dari pada naik sepeda motor sendiri, juga biar aman.
Kiayi Sodron pun menghubungi sopir taxi langganannya. Tak berapa lama taxi pun datang dan beliau berangkat ke TKP (Tempat Kejadian Pengajian).
Ditengah perjalanan, sang sopir bertanya kepada Kiyai Sodron.
Sopir Taxi : "Maaf, Pak Kiyai. Kalau boleh saya bertanya, mengapa sih kita harus bertaubat?"
Kiyai Sodron : "Ya biar diri kita kembali bersih dari dosa."
Sopir Taxi : "Menurut saya percuma saja Pak Kiyai, nanti kan juga punya dosa lagi?"
Kiyai Sodron hanya tersenyum tak menjawab.
* * *
Sesampainya ditujuan.
Sopir Taxi : "Nanti pulang jam berapa, Pak Kiyai?"
Kiyai Sodron : "Mungkin sekitar dua jam kedepan."
Sopir Taxi : "Ya sudah Pak Kiyai, daripada saya balik kepangkalan juga belum tentu dapat penumpang, bagaimana jika saya tunggu di pom bensin depan sana? Nanti Pak Kiyai ke sana saja."
Kiyai Sodron : "Ya, insya Allah."
* * *
Seusai pengajian, Kiayi Sodron pun menuju ke pom bensin yang kebetulan tidak jauh dari rumah shohibul hajat. Tampak olehnya sang sopir taxi sedang mencuci mobilnya yang kelihatan kotor karena kehujanan.
Kiyai Sodron : "Assalaamu'alaykum, Mas. Sedang apa? Mari kita pulang."
Sopir Taxi : "Wa'alaykum salam, eh Kiyai sudah pulang. Iya, tunggu sebentar ya. Ini sedang nyuci mobil, nanggung kurang dikit."
Kiyai Sodron : "Kok dicuci segala, Mas. Biar apa?"
Sopir Taxi : "Kan tadi kehujanan, Kiyai. Jadi kotor, makanya saya cuci biar bersih. Biar penumpang senang."
Kiyai Sodron : "Menurut saya percuma saja, Mas. Sekarang masih gerimis, mending ga usah dicuci. NANTI JUGA KOTOR LAGI."
Sopir Taxi : "..?????!!!!!" (gigit gigit kain lap)

Rabu, 08 Mei 2013

MEMADAMKAN KEBAKARAN DENGAN SEKEJAP


Sore itu, di sebuah desa, terdapat 3 tangki gondorukem dan depannya ada toko kelontong milik seorang Tiong Hoa yang menjual pelbagai macam kebutuhan sehari-hari.
Dan secara tak sengaja, dari tangki gondorukem itu keluar percikan api. Sesaat kemudian api membesar dan menjadi gumpalan asap hitam yang mengepul di angkasa.
Warga kampung pun keluar bertaburan ingin memadamkan api yang membesar tersebut. Lalu datanglah mobil pemadam kebakaran dengan maksud memadamkan kobaran api tersebut. Beberapa menit berlalu, api nampak tak mau padam, sehingga membuat pemilik kelontong yang beretnis Tiong Hoa itu memutar akal.
Dia (pemilik kelontong) mengambil beberapa pack sabun detergent dan kemudian menaiki beberapa mobil pemadam kebakaran yang berhenti di depan tempat tangki gondorukem itu. Kemudian, ia membuka plastik detergent itu dan memasukkan beberapa plastik ke dalam tangki mobil pemadam kebakaran.
Sontak, air dalam tangki menjadi air sabun yang berbusa banyak atau ngumpluk (istilah Jawa). Kemudian air yang berbusa itu disemprotkan ke tangki gondorukem yang terbakar itu. Tak lama, air berbusa itu pun berhasil padam. Giranglah warga sekitar dan pemilik toko hanya pulang sambil mengusap keringat.

NB : Kebakaran yang susah dipadamkan dapat diminimalisir dengan air yang berbusa.