Masih ingatkah kita tentang gaya
vokalis jamrud (Kristiyanto Nugroho) saat bernyanyi atau tampil di depan
publik, dia selalu memakai topi kupluk.
Atau masih ingatkah kita dengan Justin Beiber saat mengawali karirnya di dunia
musik, Justin Beiber hampir setiap kali penampilannya memakai topi. Mereka
berdua adalah sedikit contoh orang yang mempunyai ciri khas dalam hal fashion, sehingga para penggemar pasti
tahu cara fashion idolanya.
Entah apa yang membuat Kristiyanto/
Justin Beiber begitu menyukai gaya seperti itu, tapi mungkin dengan gaya
seperti itu dia lebih nyaman atau pede.
Sebenarnya tidak hanya mereka yang
mempunyai ciri khas dalam fashion
topi saja. Di Indonesia, ada beberapa daerah yang mempunyai ciri khas penutup
kepala itu. Salah satu contoh di Jawa yang kita kenal dengan blangkon / udeng. Orang yang memakai blangkon
merasa njawani, menjadi bagian dari
masyarakat Jawa dan dari sebuah blangkon, ada cerita tentang identitas budaya
Jawa yang memberikan penghidupan yang terus mengalir bagi warganya.
Blangkon adalah
tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian
dari pakaian tradisional Jawa. Sejatinya, blangkon terbuat dari kain ikat yang
terbentuk segi empat dengan ukuran 105 x105 cm. Namun yang digunakan hanya separuhnya.
Blangkon sebenarnya
bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup
kepala yang dibuat dari kain batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian
dari pakaian tradisional Jawa. Menurut wujudnya,
blangkon dibagi menjadi 4, yakni blangkon Ngayogyakarta Hadiningrat, blangkon
Surakarta, blangkon Kedu, dan Blangkon Banyumasan. Untuk beberapa tipe
blangkon ada yang menggunakan tonjolan,
pada bagian belakang blangkon. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang
sering mengikat rambut panjang mereka di
bagian belakang kepala, sehingga bagian
tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Tidak ada catatan sejarah
yang dapat menjelaskan asal mula pria Jawa memakai ikat kepala atau penutup
kepala ini.
Ada beberapa
pendapat yang menyatakan bahwa pemakaian blangkon merupakan pengaruh dari
budaya Hindu dan Islam yang diserap oleh orang Jawa. Menurut para ahli, orang
Islam yang masuk ke Jawa terdiri dari dua etnis yaitu keturuan China dari
Daratan Tiongkok dan para pedagang Gujarat. Para pedagang Gujarat ini adalah
orang keturunan Arab, mereka selalu mengenakan surban, yaitu kain panjang dan
lebar yang diikatkan di kepala mereka. Surban inilah yang menginspirasi orang Jawa
untuk memakai iket kepala seperti
halnya orang keturunan Arab tersebut.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa
pada jaman dahulu, iket kepala
tidaklah permanen seperti sorban yang senantiasa diikatkan pada kepala. Tetapi
dengan adanya masa krisis ekonomi akibat perang, kain menjadi satu barang yang
sulit didapat. Oleh karena itu, para petinggi keraton meminta seniman untuk
menciptakan ikat kepala yang menggunakan separuh dari biasanya untuk efisiensi
Maka terciptalah bentuk penutup kepala yang permanen dengan kain yang lebih
hemat yang disebut blangkon. Pada jaman dahulu,
blangkon memang hanya dapat dibuat oleh para seniman ahli dengan pakem (aturan)
yang baku. Semakin memenuhi pakem yang ditetapkan, maka blangkon tersebut akan
semakin tinggi nilainya. Penilaian mengenai keindahan blangkon, selain dari
pemenuhan terhadap pakem juga tergantung sejauh mana seseorang mengerti akan
standar cita rasa serta ketentuan-ketentuan yang sudah menjadi standar sosial.
Pakem yang berlaku untuk blangkon, ternyata bukan hanya harus dipatuhi oleh
pembuatnya, tetapi juga oleh para penggunanya.
Secara tinjauan historis,
blangkon sangat terkenal pada masa Jawa Islam pertama, yang dipopulerkan oleh
Sunan Kalijaga (Raden Said). Kanjeng Sunan mempopulerkannya pada saat
menyebarkan ajaran Islam melalui wayang dan dalang dengan memakai blangkon. Atau
pada masa kini sering disebut blusukan
ke berbagai daerah, bahkan sampai semenanjung Malaka, sehingga ada sebutan Syeh
Malaya bagi kanjeng Sunan. Mungkin pendapat ini perlu ditinjau secara akademis,
namun yang jelas, pendapat tadi didukung oleh naskah otentik tembang Jawa pupuh yang terdapat pada Babad Joko Tingkir yang tertulis di
Perpustakaan Nasional Indonesia.
Saat ini (sampai
ditulisnya artikel ini) blangkon sering kali digunakan oleh Keraton Yogyakarta
Hadiningrat pada acara resmi dan digunakan pada resepsi pernikahan masyarakat umum
sebagai simbol budaya Jawa. Bahkan digunakan oleh wakil Indonesia yang ada di
Negara lain seperti duta besar, atau penyanyi Didi Kempot ketika berkunjung ke
Suriname mendendangkan lagu Jawa.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar