Rabu, 14 Oktober 2015

TOPI ALA JAWA

Masih ingatkah kita tentang gaya vokalis jamrud (Kristiyanto Nugroho) saat bernyanyi atau tampil di depan publik, dia selalu memakai topi kupluk. Atau masih ingatkah kita dengan Justin Beiber saat mengawali karirnya di dunia musik, Justin Beiber hampir setiap kali penampilannya memakai topi. Mereka berdua adalah sedikit contoh orang yang mempunyai ciri khas dalam hal fashion, sehingga para penggemar pasti tahu cara fashion idolanya.
Entah apa yang membuat Kristiyanto/ Justin Beiber begitu menyukai gaya seperti itu, tapi mungkin dengan gaya seperti itu dia lebih nyaman atau pede
Sebenarnya tidak hanya mereka yang mempunyai ciri khas dalam fashion topi saja. Di Indonesia, ada beberapa daerah yang mempunyai ciri khas penutup kepala itu. Salah satu contoh di Jawa yang kita kenal dengan blangkon / udeng. Orang yang memakai blangkon merasa njawani, menjadi bagian dari masyarakat Jawa dan dari sebuah blangkon, ada cerita tentang identitas budaya Jawa yang memberikan penghidupan yang terus mengalir bagi warganya.
Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Sejatinya, blangkon terbuat dari kain ikat yang terbentuk segi empat dengan ukuran 105 x105 cm. Namun yang digunakan hanya separuhnya.


Blangkon sebenarnya bentuk praktis dari iket yang merupakan tutup kepala yang dibuat dari kain batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional JawaMenurut wujudnya, blangkon dibagi menjadi 4, yakni blangkon Ngayogyakarta Hadiningrat, blangkon Surakarta, blangkon Kedu, dan Blangkon Banyumasan. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan, pada bagian belakang blangkon. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Tidak ada catatan sejarah yang dapat menjelaskan asal mula pria Jawa memakai ikat kepala atau penutup kepala ini.
Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa pemakaian blangkon merupakan pengaruh dari budaya Hindu dan Islam yang diserap oleh orang Jawa. Menurut para ahli, orang Islam yang masuk ke Jawa terdiri dari dua etnis yaitu keturuan China dari Daratan Tiongkok dan para pedagang Gujarat. Para pedagang Gujarat ini adalah orang keturunan Arab, mereka selalu mengenakan surban, yaitu kain panjang dan lebar yang diikatkan di kepala mereka. Surban inilah yang menginspirasi orang Jawa untuk memakai iket kepala seperti halnya orang keturunan Arab tersebut.
Ada pendapat yang mengatakan bahwa pada jaman dahulu, iket kepala tidaklah permanen seperti sorban yang senantiasa diikatkan pada kepala. Tetapi dengan adanya masa krisis ekonomi akibat perang, kain menjadi satu barang yang sulit didapat. Oleh karena itu, para petinggi keraton meminta seniman untuk menciptakan ikat kepala yang menggunakan separuh dari biasanya untuk efisiensi Maka terciptalah bentuk penutup kepala yang permanen dengan kain yang lebih hemat yang disebut blangkon. Pada jaman dahulu, blangkon memang hanya dapat dibuat oleh para seniman ahli dengan pakem (aturan) yang baku. Semakin memenuhi pakem yang ditetapkan, maka blangkon tersebut akan semakin tinggi nilainya. Penilaian mengenai keindahan blangkon, selain dari pemenuhan terhadap pakem juga tergantung sejauh mana seseorang mengerti akan standar cita rasa serta ketentuan-ketentuan yang sudah menjadi standar sosial. Pakem yang berlaku untuk blangkon, ternyata bukan hanya harus dipatuhi oleh pembuatnya, tetapi juga oleh para penggunanya.
Secara tinjauan historis, blangkon sangat terkenal pada masa Jawa Islam pertama, yang dipopulerkan oleh Sunan Kalijaga (Raden Said). Kanjeng Sunan mempopulerkannya pada saat menyebarkan ajaran Islam melalui wayang dan dalang dengan memakai blangkon. Atau pada masa kini sering disebut blusukan ke berbagai daerah, bahkan sampai semenanjung Malaka, sehingga ada sebutan Syeh Malaya bagi kanjeng Sunan. Mungkin pendapat ini perlu ditinjau secara akademis, namun yang jelas, pendapat tadi didukung oleh naskah otentik tembang Jawa pupuh yang terdapat pada Babad Joko Tingkir yang tertulis di Perpustakaan Nasional Indonesia.




Saat ini (sampai ditulisnya artikel ini) blangkon sering kali digunakan oleh Keraton Yogyakarta Hadiningrat pada acara resmi dan digunakan pada resepsi pernikahan masyarakat umum sebagai simbol budaya Jawa. Bahkan digunakan oleh wakil Indonesia yang ada di Negara lain seperti duta besar, atau penyanyi Didi Kempot ketika berkunjung ke Suriname mendendangkan lagu Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar