Sebuah hal yang positif dilakukan oleh pemerintahan
daerah Kabupaten Tegal pada peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1437 H, yang
memiliki bupati seorang dalang, Ki Enthus Susmono, menggelarnya tepat di depan pendopo
pemerintahan kabupaten Tegal.
Pemda mengemas acara ini dengan menghadirkan
beberapa tokoh Nasional, seperti Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan
(Ketua Jam’iyyah Ahli Thoriqoh Muktabaroh An Nahdliyah Nahdlatul Ulama) dan KH.
Musthofa Bisri (Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Tholibin, Rembang). Gus
Mus, sapaan akrab beliau, yang notabene agamawan dan budayawan merupakan anak
dari pengarang Kitab Tafsir yang terkenal yakni tafsir Al-Ibriz, yang kemarin
dalam acara Muktamar NU “sempat” ngadem
ngademi perselisihan pendapat antara muktamirin dan panitia, sehingga acara
dapat berjalan lancar. Pemandangan ini membuat acara ini, sehingga sedemikian glamour dan meriah. Turut serta dihadiri
DPRD, muspida setempat, serta tak lupa TNI/ POLRI yang ikut andil dalam acara
ini berjajar di sekitar panggung.
Belum lagi pengamanan TNI/ POLRI bergabung dengan personel
banser NU yang turut menjaga dari jauh jalan menuju acara berlangsung, sebelum
pintu masuk, hingga area panggung tempat pusat acara ini berlangsung, berharap
agar acara ini berjalan dengan lancar dan tertib.
Sekitar pukul 20.00 wib, pembacaan kitab maulid
dimulai oleh beberapa habib dan kyai yang berada di atas panggung regging
ukuran 6x8 meter, diiringi dengan alat musik dumbuk, rebana dan perkusi,
sehingga ketika syrakal, nampak
alunan tempo alat ritmis begitu
syahdu dan tertata rapi berdampingan dengan nada melodis dari pembacaan maulid. Dari keserasian tata letak panggung
dan kesiapan alat serta personil pendukung acara ini, nampak benar bahwa
peringatan kali ini diadakan dengan persiapan yang sangatlah matang.
Warga pun dari anak kecil, tua muda, berbagai
kalangan berduyun duyun, berbaur menjadi satu, sehingga nampak syahdu
kekompakan mereka.
Di atas panggung nampak pembaca maulid yang terdiri
dari habaib dan kyai dan dihadiri 7000 lebih warga dari Kabupaten Tegal dan
sekitarnya, berada pada kompleks pendopo yang dilingkari pagar bumi dan di luar
nampak banyak yang belum masuk ke area.
Setelah itu sambutan dari ketua panitia, wakil
bupati yang membacakan rincian penggunaan APBD untuk membantu rumah rumah warga
yang belum layak, serta sambutan yang “tak begitu formal” dari pak Bupati
dengan ciri khas blangkonnya menempel membuat acara ini nampak beda dari
biasanya. Dalam sambutannya ada sekelumit yang lucu, yakni ucapan pak bupati Ki
Enthus, “kepala badan...., kiyeh ndas
awak ndas awak” membuat para hadirin tertawa terpingkal.
Tertata rapi pula area parkir yang berada di sisi
samping pendopo, yang dijaga oleh beberapa personil gabungan tersebut.
Kemudian tampillah Gus Mus mengisi pada acara
tersebut di atas panggung.
Yang tak kalah pentingnya adalah menjaga persatuan
dan kesatuan, yang disampaikan oleh Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya
Pekalongan dalam mau’idhoh khasanahnya,
yang sedemikian getol dan bersemangat
dalam menjaga kesatuan NKRI. Abah begitu panggilan akrab Habib Luthfi bin Ali
bin Yahya, atau bendoro untuk
panggilan Ki Enthus kepada beliau.
Dari paparan yang disampaikan tadi, nampak benar
sinergitas atau kekompakan antara ulama
dan umaro, akan pentingnya menjaga
persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia tercinta. Agar tak lekang oleh
kebiasaan kebiasaan baru yang memecah belah bangsa.
Tentu saja hal ini memberikan kontribusi berkah
bagi warga lokal para pedagang yang turut andil memeriahkan cara tersebut. Beragam
ratusan pedagang nampak di sederet jalan menuju pendopo ini. Menunjukkan bahwa
antusias warga dan pedagang sedemikian besar, untuk mengalap berkah dari alunan
doa serta shalawat yang dilantunkan para habaib dan Kyai. Jayalah terus
INDONESIAKU!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar