Pada
malam hari itu, suara speaker masjid terdengar sampai ke rumahku, kepala dusun
waktu itu memberi tahu bahwa pukul 20.00 wib akan ada pertemuan tentang
pembangunan Sekolah Ibtidaiyah atau yang sering dikenal dikalangan masyarakat
madrasah. Di desaku madrasah adalah salah satu tumpuan generasi penerus menimba
ilmu agama. tapi sayang kondisi madrasah itu memprihatinkan, tidak layak huni.
Banyak sekali atap yang berlubang, tembok yang sudah rapuh. Saat musim hujan
ruangan kelas akan terisi oleh genangangan air, sehingga sebelum dilaksanakan
pembelajaran santri wajib membersihkan terlebih dahulu.
Singkat
cerita, jam telah menunjukkan pukul 20.00 wib, dan berkumpullah masyarakat serta
bermusyawarah tentang kondisi madrasah tersebut. Melalui musyawarah, diputuskan
bahwa besok akan dilakukan perbaikan madrasah. Oleh karena dana guna pembangunan
tidak ada, maka warga pun mempunyai ide agar memberikan sumbangan semampu
mereka, kemudian warga bahu membahu memperbaiki madrasah yang rusak itu. Sistem
gotong royong ini memang sangat melekat di warga desa kami, tidak hanya kali
ini saja warga membuat hal seperti ini, seringkali dalam setiap acara pasti
semangat gotong royong ini akan muncul.
Gotong
royong adalah salah satu budaya bangsa yang membuat Indonesia di puji oleh
bangsa lain karena budaya yang unik dan penuh toleransi sesama antar manusia.
Ini juga merupakan salah satu faktor yang membuat Indonesia bisa bersatu dari Sabang
sampai Merauke, walau berbeda agama, suku dan warna kulit. Gotong royong adalah
salah satu adat istiadat bangsa Indonesia yang paling tinggi. Tanpa gotong
royong bisa jadi bangsa ini takkan pernah ada, karena gotong royong merupakan
kekuatan yang sangat besar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Saat
pembangunan madrasah di desa kami terlihat bahwa nilai gotong royong sangatlah
tinggi. Para laki-laki sibuk dengan mengaduk semen dan pasir, memotong kayu dan
menyiapkan alat- alat bangunan, sedangkan para wanita memasak untuk keperluan laki-laki,
menyiapkan minum dan lain- lain.
Dalam
perjuangan kemerdekaan Indonesia sejarah gotong royong sangat berpengaruh. Hal
ini tercantum dalam kerangka NCB pada tahun 1945, Presiden Ir. Soekarno
mempopulerkan istilah gotong royong sebagai bagian esensial dari revitalisasi
nilai-nilai sosio-budaya pada masyarakat lintas suku bangsa di Indonesia agar
terbebas dari dominasi sosial, ekonomi, politik, serta ideologi asing yang tidak
menguntungkan bangsa Indonesia. Sebagaimana kita pahami bersama, bahwa kemerdekaan
bangsa Indonesia tidak mungkin dicapai tanpa dukungan kekuatan masyarakat
yang tersebar di seluruh tanah
air dalam bentuk gotong royong antar masyarakat yang memperkuat energi tokoh-tokoh
perjuangan kemerdekaan. Jauh sebelum merdeka, istilah gotong royong
merupakan kekuatan sinergis antar masyarakat yang terdapat di Indonesia. Presiden
Soekarno pada 1964, menyebut kata gotong royong sebagai perasaan dari
dasar negara Pancasila, yang nilai-nilainya digali dari sejarah bangsa Indonesia.
Gotong royong telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pada hampir
seluruh suku bangsa, ia juga dapat disebut sebagai inti kekuatan budaya masyarakat
Indonesia yang dapat dijadikan landasan semangat dan tindakan kolektif
untuk merevitalisasi nilai-nilai kebersamaan dalam kegotongroyongan.
Gotong royong berarti bahu membahu, saling
bergandengan tangan, atau memikul beban secara bersama sebagai bagian dari
pemberdayaan diri secara kolektif untuk menyelesaikan atau mengatasi suatu
persoalan, dan sekaligus juga untuk menggapai tujuan kebaikan bersama. Gotong royong
mengandung makna kebersamaan, kesetaraan, keadilan dan kebersamaan
dalam memecahkan masalah untuk mencapai tujuan bersama.
Sifat dan budaya kegotongroyongan akhir-akhir ini
hampir menjadi cerita romantis bagi generasi muda. Banyak faktor yang
mempengaruhi tereduksinya budaya gotong royong di masyarakat., diantaranya
adanya benturan dengan budaya individualis. Salah satu faktor ini yang
kemudian melahirkan sikap acuh pada anggota masyarakat yang bermuara pada sikap
lebih mementingkan kepentingan pribadi atau golongan, dan berkembangnya
pikiran bahwa pembangunan merupakan urusan penguasa. Hal ini tidak
bisa dibiarkan, karena hanya akan melahirkan tereduksinya modal sosial
kegotongroyongan yang sudah berkembang di masyarakat. Revitalisasi
nilai-nilai kemasyarakatan dalam mewujudkan kembali semangat
kegotongroyongan di masyarakat menjadi sesuatu yang urgen. Semangat
kebersamaan yang pernah berkembang di masyarakat dapat diwujudkan karena
adanya sentimen keagamaan, kesatuan perasaan, dan kesatuan tujuan. Semangat yang membuat Indonesia
menjadi negara yang besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar