Secara historis, gamelan sebagai alat tabuh tenar semenjak kanjeng Sunan Bonang memakainya sebagai alat untuk menyebarkan agama Islam di Indonesia. Atau oleh kanjeng Sunan Kalijaga sebagai media dakwah kala itu berbarengan dengan pertunjukan wayangnya semalam suntuk. Di Keraton Yogyakarta Hadiningrat gamelan dilestarikan dan dipakai sebagai alat dalam acara acara upacara resmi keraton. Bahkan gamelan itu diberi nama masing-masing oleh pihak keraton, misal dengan nama Kyai.
Tentu ini berkaitan dengan tinjauan historis dengan penyebaran Islam di Jawa oleh para wali. Hal ini dibuktikan dengan kesesuaian nama sinuwun Raja Yogyakarta yang menyandang gelar "susuhunan" serupa dengan kata "sunan".
Gamelan terdiri dari seperangkat alat yang meliputi ritmis dan melodis.
Saat ini, penggunaan gamelan nampak pada pertunjukan wayang yang digelar oleh dalang, untuk mendukung berlangsungnya acara. Biasanya berbarengan dengan para sinden dan penabuh kendang. Hanya saja, anak muda saat ini nampaknya tidak begitu akrab dan suka dengan alat ini. Oleh karena alat alat musik modern saat ini dianggap lebih maju mewakili nada nada yang lebih lengkap secara chord, misalnya keyboard. Gamelan terbatas pada nada mayor.
Namun, seyogyanya alat ini bisa digunakan pada setiap peringatan besar keagamaan atau peringatan tujuh belasan. Kepedulian masyarakat akan gamelan beserta kemampuan memainkannya beserta gong perlu dibangkitkan kembali.
Gamelan nampak pula digunakan oleh sekelompok orang etnis tiong hoa dekat klenteng di pecinan Kota Pekalongan.
Hanya saja, intensitas penggunaan gamelan acapkali yang jarang, oleh sebagian besar warga negara Indonesia, membuatnya "semakin tenggelam".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar