Jumat, 16 Oktober 2015

Luka ini menyembuhkanku




Waduke : Bro, badan gw pegel-pegel nih?
Toli : Abis ngapain lo?
Waduke : Biasa bro, semalam abis begadang nonton bola, bisa bantuin gw gak?..
Toli : bantu apaan bro?..
Waduke : kerokin badan gw donk....
(Cerita ini hanya ilustrasi, penulis meminta maaf bila ada pihak yang tersinggung dari percakapan ini).

Yup....kerokan!!! Kerokan adalah budaya masyrakat Indonesia yang sampai sekarang masih dijaga. Entah apa yang mendasari dari budaya ini, tapi hampir semua masyrakat Indonesia percaya bahwa kerokan adalah terapi alternatif untuk menyembuhkan penyakit khususnya penyakit masuk angin.
Kerokan adalah sebuah terapi pengobatan alternatif untuk gejala masuk angin dengan metode menggaruk sambil menekan bagian permukaan kulit menggunakan minyak dan benda tumpul seperti uang logam sebagai alat pengerok, yang selanjutnya menyebabkan guratan merah atau lecet pada kulit. Pengobatan tradisional ini menggunakan semacam benda tumpul seperti koin, batu giok, gundu, potongan jahe, potongan bawang, atau benda tumpul lainnya yang digunakan untuk menggosok bagian punggung. Selain benda tumpul tadi, pengobatan kerokan ini juga menggunakan cairan licin seperti minyak telon, minyak olive, minyak kelapa, atau lotion. Cairan licin ini digunakan agar tidak terjadi iritasi atau lecet pada kulit yang dikerok. Tindakan ini akan "mengeluarkaan angin" dari dalam tubuh dengan menghangatkan permukaan kuliat sehingga peredaran darah meningkat dan menjadi lancar.
Meski dunia medis sudah canggih, namun kebiasaan kerokan ternyata masih bisa dinikmati dari berbagai golongan dan strata sosial. Pengobatan ini masih sering diterapkan oleh orang Indonesia hingga sekarang.
Budaya kerokan ternyata sudah ada sejak zaman kerajaan dahulu. Bahkan raja-raja dan petinggi kerajaan Nusantara banyak yang melakukan terapi ini untuk kesehatan. Terapi ini digemari, karena rasanya yang manjur dan murah tentunya untuk sebuah penyembuhan penyakit. Ada kepercayaan bahwa koin juga berfungsi untuk menarik roh jahat yang membuat penderita sakit keluar dari badannya, karena roh jahat seringkali dianggap tertarik dengan uang. Semakin merah dan gelap tanda guratannya, semakin parah masuk anginnya.
 

Ada beberapa referensi kalau kerokan tuh sebenarnya kita sedang mempraktikan rumus fisika Albert Einstein yang paling terkenal, E=MC2? Sederhananya, rumus ini menjelaskan bagaimana energi itu bisa terbentuk dari pergesekkan antara dua permukaan benda. Nah walaupun leluhur kita mungkin tidak berpikir seilmiah itu ketika menemukan metode penyembuhan ini, kerokan itu benar-benar menjiwai prinsip ilmiah ini.
Menggosokkan uang logam ke kulit secara berulang-berulang itu sebenarnya gerakan gesek yang mampu menciptakan energi. Energi disini berupa panas. Jadi, ya wajar aja kalau setelah kerokan kamu merasa hangat. Konsep ini sama halnya ketika kamu saling menggosokkan kedua telapak tanganmu.
Nah sebenarnya untuk menjembatani kesalahpahaman budaya itu, penelitian empiris tentang segala manfaat dan mungkin efek samping pengobatan tradisional ini perlu diupayakan. Disamping untuk meluruskan kesalahpahaman dan mitos yang tidak benar tentang kerokan, justifikasi ilmiah juga bisa membantu melestarikan kekayaan budaya Indonesia yang semakin tidak populer di kalangan muda ini. Jadi walaupun kamu sendiri belum yakin dengan manfaat kerokan ini, gak sepantasnya kamu serta-merta tidak peduli dengan kekayaan tradisi Indonesia yang satu ini. Siapa tahu kalau diteliti kebaikan lebih lanjut dan dipromosikan dengan benar, kerokan bisa jadi metode pengobatan alternatif yang mendunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar