Waduke : Bro, badan gw pegel-pegel nih?
Toli : Abis ngapain lo?
Waduke : Biasa bro, semalam abis begadang nonton bola,
bisa bantuin gw gak?..
Toli : bantu apaan bro?..
Waduke : kerokin badan gw donk....
(Cerita ini hanya ilustrasi, penulis meminta maaf bila
ada pihak yang tersinggung dari percakapan ini).
Yup....kerokan!!! Kerokan adalah budaya masyrakat
Indonesia yang sampai sekarang masih dijaga. Entah apa yang mendasari dari
budaya ini, tapi hampir semua masyrakat Indonesia percaya bahwa kerokan adalah
terapi alternatif untuk menyembuhkan penyakit khususnya penyakit masuk angin.
Kerokan adalah sebuah terapi pengobatan
alternatif untuk gejala masuk
angin dengan metode menggaruk sambil menekan bagian permukaan kulit
menggunakan minyak dan benda tumpul seperti uang logam sebagai alat pengerok,
yang selanjutnya menyebabkan guratan merah atau lecet pada kulit. Pengobatan
tradisional ini menggunakan semacam benda tumpul seperti koin, batu giok,
gundu, potongan jahe, potongan bawang, atau benda tumpul lainnya yang digunakan
untuk menggosok bagian punggung. Selain benda tumpul tadi, pengobatan kerokan
ini juga menggunakan cairan licin seperti minyak telon, minyak olive, minyak
kelapa, atau lotion. Cairan licin ini digunakan agar tidak terjadi iritasi atau
lecet pada kulit yang dikerok. Tindakan ini akan "mengeluarkaan
angin" dari dalam tubuh dengan menghangatkan permukaan kuliat sehingga
peredaran darah meningkat dan menjadi lancar.
Meski dunia medis sudah
canggih, namun kebiasaan kerokan ternyata masih bisa dinikmati dari berbagai
golongan dan strata sosial. Pengobatan ini masih sering diterapkan oleh orang Indonesia hingga sekarang.
Budaya kerokan ternyata sudah ada
sejak zaman kerajaan dahulu. Bahkan raja-raja dan petinggi kerajaan Nusantara
banyak yang melakukan terapi ini untuk kesehatan. Terapi ini digemari, karena
rasanya yang manjur dan murah tentunya untuk sebuah penyembuhan penyakit. Ada
kepercayaan bahwa koin juga berfungsi untuk menarik roh jahat yang membuat
penderita sakit keluar dari badannya, karena roh jahat seringkali dianggap
tertarik dengan uang. Semakin merah dan gelap tanda guratannya, semakin parah
masuk anginnya.
Ada beberapa referensi kalau kerokan tuh sebenarnya
kita sedang mempraktikan rumus fisika Albert Einstein yang paling
terkenal, E=MC2? Sederhananya, rumus ini menjelaskan bagaimana energi itu bisa
terbentuk dari pergesekkan antara dua permukaan benda. Nah walaupun leluhur
kita mungkin tidak berpikir seilmiah itu ketika menemukan metode penyembuhan
ini, kerokan itu benar-benar menjiwai prinsip ilmiah ini.
Menggosokkan uang logam ke kulit secara
berulang-berulang itu sebenarnya gerakan gesek yang mampu menciptakan energi.
Energi disini berupa panas. Jadi, ya wajar aja kalau setelah kerokan kamu
merasa hangat. Konsep ini sama halnya ketika kamu saling menggosokkan kedua
telapak tanganmu.
Nah sebenarnya untuk menjembatani
kesalahpahaman budaya itu, penelitian empiris tentang segala manfaat dan
mungkin efek samping pengobatan tradisional ini perlu diupayakan. Disamping
untuk meluruskan kesalahpahaman dan mitos yang tidak benar tentang kerokan,
justifikasi ilmiah juga bisa membantu melestarikan kekayaan
budaya Indonesia yang semakin tidak populer di kalangan muda ini.
Jadi walaupun kamu sendiri belum yakin dengan manfaat kerokan ini, gak
sepantasnya kamu serta-merta tidak peduli dengan kekayaan
tradisi Indonesia yang satu ini. Siapa tahu kalau diteliti kebaikan
lebih lanjut dan dipromosikan dengan benar, kerokan bisa jadi metode pengobatan
alternatif yang mendunia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar