Kamis, 15 Oktober 2015

BERBEDA TAPI SATU


Indonesia terkenal dengan bangsa yang terdiri dari multi suku, agama dan bahasa. Analogika sederhana dari keberagaman tersebut di kemudian hari, apakah nantinya pelbagai suku dan bahasa tidak menimbulkan konflik kepentingan atau bahkan pertumpahan darah?
Dalam tataran tekstual, bahasan perbedaan agama, multi suku dan multi bahasa tidak nampak penting. Namun dalam tataran kontekstual realitas, pernyataan konflik kepentingan atau bahkan pertumpahan darah ini akan menimbulkan permasalahan besar di kemudian hari; sebagai contoh kasus Tolikara Papua yang melarang aktivitas sholat idul fitri, atau kekerasan Aceh Singkil yang merusak rumah Ibadah Gereja.
Apakah atas nama agama atau atas nama suku atau atas nama bahasa, dengan alasan berbeda kepentingan bisa dengan mudah berbuat konflik? Bukankah tekstual kitab itu diam? Yang menafsirkan orangnya.
Masih ingatkah kita dengan kisah Nabi Sulaiman bin Daud as yang menghormati semut dalam Al-Qur'an surat an-Naml? Semut sempat ketakutan terinjak oleh Nabi Sulaiman dan pasukannya yang terdiri dari bangsa jin, manusia dan burung. Kisah ini mengajarkan kepada kita agar kita menghormati sesama makhluk Tuhan YME segala yang memiliki nyawa.
Atau masih ingatkah kita dengan sejarah yang menulis tentang penyebaran Islam di Indonesia yang dilakukan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga yang mengubah tradisi memberi sesajen kepada pohon atau patung, diubah dan dikemas menjadi yasin dan tahlil dengan "ambeng" nasi tanpa kekerasan.
Kita perlu belajar dari kisah nabi Sulaiman as tadi dan penyebaran oleh Kanjeng Sunan di atas, dengan membawa kedamaian dan rahmat.
Gus Dur sebagai agamawan, budayawan dan seorang presiden Indonesia memberi banyak contoh atas pengaplikasian pluralis. Pluralisme jauh lebih banyak dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari Gus Dur dibanding diwacanakan. Kalaupun ia diminta dalil agama, ia akan menyampaikan ayat al Qur’an ini: “Wahai manusia, Aku ciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dan Aku jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya manusia yang paling mulia di antara kalian di mata-Ku, ialah orang yang paling bertaqwa kepada-Ku”.
“Li ta’arafu” (saling mengenal), tidak sekedar tahu nama, alamat rumah, nomor handphone, atau tahu wajah dan tubuh yang lain. Lebih dari itu, saling mengenal adalah memahami kebiasaan, tradisi, adat-istiadat, pikiran, hasrat yang lain, yang berbeda, yang tak sama. Lebih dari segalanya “li ta’arafu” berarti agar kalian saling menjadi arif bagi yang lain.
Yang paling mulia di hadapan Tuhan adalah yang paling taqwa, bukan yang paling gagah atau cantik, bukan yang paling kaya atau rumah megah. Taqwa bukan sekedar dan hanya berarti sering datang ke masjid atau menghadiri secara rutin majelis taklim, membaca kitab suci, memutar tasbih, bangun malam, atau puasa tiap hari. Namun, taqwa adalah mengendalikan amarah, hasrat-hasrat rendah, menjaga hati, tidak melukai, tidak mengancam, ramah, sabar, rendah hati dan sejuta makna kebaikan kepada yang lain dan kepada alam.
Dalam sejumlah kesempatan Gus Dur menyampaikan makna taqwa dengan menukil ayat al-Qur’an ini:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”.(Q.S. al-Baqarah:177)

Semoga di Indonesia tidak ada lagi konflik sosial yang mengatasnamakan agama, suku, bahasa atau golongan.

Karena kita BHINEKA TUNGGAL IKA.
JAYALAH INDONESIAKU!!!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar