Al-Arif Billah Maulana Habib Muhammad Lutfhi bin Ali bin
Yahya adalah tokoh ulama besar di Indonesia. Beliau seorang hafidz, tidak hanya
sekedar seorang tokoh agama tapi lebih dari itu. Beliau juga adalah budayawan,
seniman dan pejuang di waktu ini. Sampai sekarang Maulana Habib Muhammad Lutfhi
bin Ali bin Yahya menjabat sebagai Ra’is ‘Am Jam’iyah Ahlit Thoriqoh
al-Mu’tabarah an-Nahdiyah dan Ketua MUI Jawa Tengah. Dan yang utama beliau
seorang Mursyid, yang selalu mendengungkan kecintaan pada Allah swt dan
Rasulullah Muhammad saw.
Habib Muhammad Lutfhi bin Ali bin Yahya lahir dipekalongan,
10 nopember 1947. Dilahirkan dari seorang syarifah (dari jalur ibu), yang
memiliki nama dan nasab: sayidah al Karimah as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin
bin Sayid Salim bin Sayid al Imam Shalih bin Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin
Sayid Imam ‘Alawi bin Sayid al Imam Muhammad bin al Imam ‘Alawi bin Imam al
Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam
Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam ‘Ali bin Imam ‘Alawi bin Sayidina Imam al
Faqih al Muqadam bin ‘Ali Bâ Alawi. Serta dari jalur ayah, beliau tak diragukan
lagi memiliki nasab yang menyambung hingga Baginda Rasulullah Muhammad saw.
Pendidikan pertama Maulana Habib Luthfi diterima dari ayah
al Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Beliau sempat menjadi murid kesayangan dari
Habib Ahmad al-athas Pekalongan. Selanjutnya beliau belajar di Madrasah
Salafiah. Selanjutnya pada tahun 1959 M, beliau melanjutkan
studinya ke pondok pesantren Benda Kerep, Cirebon dan Kedungparuk. Dan menjadi
murid kesayangan Mbah Kyai Abdul Malik yang secara nasab masih keturunan
Pangeran Diponegoro. Kemudian Indramayu, Purwokerto dan Tegal. Setelah itu
melanjutkan ke Mekah, Madinah dan dinegara lainnya. Beliau menerima ilmu
syari’ah, thariqah dan tasawuf dari para ulama-ulama besar, wali-wali Allah
yang utama, guru-guru yang penguasaan ilmunya tidak diragukan lagi.
Dari Guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah khas
(khusus), dan juga ‘am (umum) dalam da’wah dan nasyru syari’ah (menyebarkan syari’ah),
thoriqah, tashawuf, kitab-kitab hadits, tafsir, sanad, riwayat, dirayat, nahwu,
kitab tauhid, tashawuf, bacaan aurad, hizib, kitab-kitab shalawat, kitab
thariqah, sanad-sanadnya, nasab, kitab-kitab kedokteran. Dan beliau juga mendapat ijazah untuk
membaiat.
Beliau adalah teladan bagi masyarakat Indonesia supaya
mencintai Negara Indonesia. Dalam setiap ceramah beliau selalu menekankan agar mencintai Negara
ini. Beliau tidak pernah lelah menyuarakan “NKRI harga mati”.
Salah satu ceramah tentang beliau
tentang cinta kepada tanah air :
“Kalau kita cinta tanah air buktikan kalau cinta, jangan
hanya ngomong saja. Buktikan cinta kepada Republik Indonesia, sebagaimana
Rasulullah saw memberikan contoh cinta kepada tanah kelahirannya sampai-sampai
Rasulullah saw puasa setiap hari Senin, cinta pada tanah airnya Rasulullah
sampai beliau bersabda: kecintaan kepada negeri arab 3 hal karena saya
orang Arab, Rasulullah memberi contoh kepada kita karena saya orang Indonesia,
saya Bangsa Indonesia. Bukan sebagai bangsa Indonesia kalau sebagai bisa pinjam
tapi kalau tegas saya adalah orang Indonesia dan saya adalah Bangsa Indonesia
(dengan suara tegas). Kita harus berani dan tegas, menunjukan suara tegas
adalah menujukan sikap ksatria kita yang siap di depan apabila ada oknum-oknum
yang akan menggoyahkan NKRI”. (Habib Lutfhi lalu bertanya kepada jamaah) Anda
ridho bila NKRI hancur? Anda ridhlo bila NKRI pecah belah? Tunjukkan bila
tidak, dengan cara persatuan-kesatuan ini diperkuat, jangan memberikan satu
celah untuk oknum-oknum manusia yang akan memecah belah Indonesia. Itulah
ajaran Rasulullah agar mencintai bangsa sendiri. Tidak cukup dengan cinta tanah
air saja, tapi buktikan dengan hasil karya bumi pertiwi ini, kita hargai
walaupun barangnya jelek, kita tutupi kejelekan itu dan kita perbaiki, bukan
membuka kejelekan tapi tidak ada perbaikan, tunjukan dahulu kalau barangnya
bagus, kemasannya yang baik, seperti buah kiwi, buah kiwi itu bagus karena
kemasannya. Itulah cara dagang mencintai dan menghargai bumi pertiwi. Mestinya
kita lebih semangat, begitu ingin maju Republik ini. Habib Lutfhi dan habaib
disini boleh keturunan Arab, tapi tidak bisa dikatakan bangsa arab, saya adalah
orang Indonesia, saya Bangsa Indonesia. Garis keturunan tidak bisa hilang tapi
kita adalah Bangsa Indonesia”.
Begitu banyak ceramah Maulana Habib Lutfhi Bin Yahya
tentang cinta tanah air. Kita harus banyak belajar kepada beliau supaya lebih
mencintai Negeri ini. Dan
sebagai generasi penerus kita harus tetap mencintai, menjaga dan melestarikan
Negeri ini agar tetap kuat.
Mungkin ini hanya sedikit tentang cerita tentang
kecintaan sang Maulana Habib Lutfhi bin Yahya kepada Bangsa ini. Ada banyak
lagi cerita yang membuktikan kecintaan beliau terhadap NKRI salah satunya adalah
dengan membuat lagu “padang bulan” dan kirab budaya.
Kita perlu berterima kasih terhadap beliau yang tak
pernah lelah mengingatkan generasi muda untuk mencintai NKRI. Semoga beliau
selalu di berikan kesehatan agar tetap mengumandangkan “NKRI harga mati”. Amin
Ya Robbal Alamin.
Jayalah Negeriku.......
Jayalah Bangsaku......

Tidak ada komentar:
Posting Komentar