Sabtu, 10 Oktober 2015

SISTEM KLASIKAL PESANTREN



Masih ingatkah anda? Dengan lirik lagu hey ini jaman edan? Atau lirik syair jaman edan, ora edan ora keduman?
Bait itu terkenal oleh sang pujangga Jawa pada abad ke-18 M, R. Ng. Ronggowarsito.
Terlepas dari tinjauan historis internal sang pujangga, kali ini akan dikemukakan sistem klasikal pesantren yang ada di Indonesia. Sebuah telaah realitas metode klasik yang ada dan telah berkembang di Indonesia.
Seorang antropolog Belanda yang concern terhadap penelitian Islam di Indonesia, Martin Van Bruinessen mengatakan bahwa sebelum keberadaan pesantren Tegalsari ini, belum ditemukan satu bukti-pun yang menunjukkan adanya sistem pesantren di Indonesia.  Tentu pandangan Martin berangkat dari gambaran pesantren sebagaimana yang jamak kita lihat sekarang, yakni mempunyai sistem metode sorogan, punya masjid beserta pondokannya, dan pastinya: ada seorang Kyai yang mengasuh para santrinya. Dalam klasifikasi tersebut, pada abad 18 pesantren Tegalsari adalah yang pertama. Sewaktu diasuh oleh Kyai Kasan Besari selama 60 tahun (1800-1862 M) Gebang Tinatar atau pesantren Tegalsari mencapai masa keemasannya. Ribuan santri dari berbagai daerah berduyun-duyun menuntut ilmu di pesantren ini, dengan metode sorogan. Bahkan pujangga jawa terkenal R. Ng. Ronggowarsito pernah "nyantri" di pondok ini.
Selain pesantren tegalsari di Timur, ada pula pesantren tenar Buntet Cirebon, yang terkenal dengan bacaan Qurannya, yang menerapkan metode sorogan.
Agaknya metode klasikal pesantren yang sorogan ini cocok dengan karakter masyarakat Indonesia, dibanding dengan metode literer.
Metode sorogan berasal dari bahasa Jawa sorog yang berarti menyodorkan. Secara istilah sorogan berarti metode mengajar yang dilakukan dengan cara santri menghadap dan menyodorkan kitab kepada kyai untuk dibaca dan dikaji bersama kyai atau ustad. Bentuk pendidikan ini bersifat Individual. Tentu saja metode ini memerlukan kesabaran, kerajinan dan kedisiplinan, yang memerlukan intensitas dan intensifitas dalam hubungan santri dan kyai.
Selain sorogan, metode menghafal juga ditekankan dalam pesantren klasik, dibandingkan dengan analogika. Namun nampaknya, metode sorogan semakin terkikis dengan era modern saat ini. Semoga pendidikan di Indonesia semakin maju, dengan tidak meninggalkan kebiasaan baik sebelumnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar