Masih ingatkah anda? Dengan lirik lagu hey ini jaman edan? Atau lirik syair jaman edan, ora edan ora keduman?
Bait
itu terkenal oleh sang pujangga Jawa pada abad ke-18 M, R. Ng. Ronggowarsito.
Terlepas
dari tinjauan historis internal sang pujangga, kali ini akan dikemukakan sistem
klasikal pesantren yang ada di Indonesia. Sebuah telaah realitas metode klasik
yang ada dan telah berkembang di Indonesia.
Seorang antropolog Belanda yang concern terhadap penelitian Islam di
Indonesia, Martin Van Bruinessen mengatakan bahwa sebelum keberadaan pesantren
Tegalsari ini, belum ditemukan satu bukti-pun yang menunjukkan adanya sistem
pesantren di Indonesia. Tentu pandangan Martin berangkat dari
gambaran pesantren sebagaimana yang jamak kita lihat sekarang, yakni mempunyai
sistem metode sorogan,
punya masjid beserta pondokannya, dan pastinya: ada seorang Kyai yang mengasuh
para santrinya. Dalam klasifikasi tersebut, pada abad 18 pesantren Tegalsari
adalah yang pertama. Sewaktu diasuh oleh Kyai Kasan Besari selama 60 tahun
(1800-1862 M) Gebang Tinatar atau pesantren Tegalsari mencapai masa
keemasannya. Ribuan santri dari berbagai daerah berduyun-duyun menuntut ilmu di
pesantren ini, dengan metode sorogan.
Bahkan pujangga jawa terkenal R. Ng. Ronggowarsito pernah "nyantri"
di pondok ini.
Selain pesantren tegalsari di Timur, ada pula pesantren tenar
Buntet Cirebon, yang terkenal dengan bacaan Qurannya, yang menerapkan metode sorogan.
Agaknya metode klasikal pesantren yang sorogan ini cocok
dengan karakter masyarakat Indonesia, dibanding dengan metode literer.
Metode sorogan berasal dari bahasa Jawa sorog yang berarti menyodorkan. Secara
istilah sorogan berarti metode mengajar yang dilakukan dengan cara santri
menghadap dan menyodorkan kitab kepada kyai untuk dibaca dan dikaji bersama
kyai atau ustad. Bentuk pendidikan ini bersifat Individual. Tentu saja metode
ini memerlukan kesabaran, kerajinan dan kedisiplinan, yang memerlukan
intensitas dan intensifitas dalam hubungan santri dan kyai.
Selain sorogan, metode menghafal juga ditekankan dalam
pesantren klasik, dibandingkan dengan analogika. Namun nampaknya, metode
sorogan semakin terkikis dengan era modern saat ini. Semoga pendidikan di
Indonesia semakin maju, dengan tidak meninggalkan kebiasaan baik sebelumnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar