![]() |
| Keasrian Ubud, Bali, Indonesia |
Indonesia merupakan negara di dunia yang kaya akan
suku, bahasa, budaya, adat istiadat, juga tradisi yang diwariskan oleh leluhur
yang secara turun-temurun secara alami. Keramahan dan keterbukaan menjadi ciri
khas negara kita, dari zaman dahulu sampai sekarang. Suatu hal positif yang
menjadi percontohan dan menjadi inspirasi bagi kita semua, masuknya kota Ubud
Bali ke dalam 10 (sepuluh) kota teramah di dunia versi majalah pariwisata dunia
CONDENAST TRAVELER yang berbasis di
Amerika.
Survei tersebut menempatkan ubud di urutan ke-9
(kesembilan) sebagai tempat teramah di dunia. Selain dijadikan sebagai tempat
untuk destinasi wisata, Ubud memiliki nilai akomodasi yang sangat tinggi.
Keasrian alam serta keramahan warga merupakan sebuah fenomena yang tak dapat
dipisahkan secara partial. Di ubud,
sifat ramah seperti ini merupakan sebuah kewajiban bagi tiap-tiap warganya.
Untuk menyambut kedatangan tamu-tamunya, “keramah-tamahan” merupakan sebuah
kata kunci dan kunci sukses menuju kehidupan yang lebih baik. Begitulah yang
tercetus dan telah “membudaya” bagi masyarakat sana, tanpa memandang suku,
agama, ras dan bahasa dari mana pun datangnya.
Ubud menjelma sebagai tempat yang simbolis akan
kerukunan antar umat beragama. Hal inilah yang menarik perhatian mata dunia.
Artis kenamaan Julia Robert yang pernah bertandang kesana, sekaligus membuat
film bertajuk “EAT, PRAY, LOVE”
mengatakan “Ubud adalah surganya Asia”.
Berikut ini adalah daftar 10 kota teramah di dunia,
versi majalah CONDENAST TRAVELER:
- Florianopolis, Brazil
- Hobart, Tasmania
- Thimpu, Bhutan
- Queenstown, New Zealand
- Charleston, South Carolina
- Paro, Bhutan
- Margaret River, Australia
- Kill Kenny, Irlandia
- Ubud, Bali, Indonesia
- Chiangmai, Thailand
![]() |
| Ubud Bali |
Meski berada pada urutan ke-9, hal ini tak mempengaruhi
niat baik warga ubud. Hal yang cukup membanggakan warga negara kita ini.
Semestinya semangat ini dapat ditularkan ke setiap individu yang berada di
Indonesia. Hal ini juga merupakan sebuah inspirasi baik yang membuat kita lebih
terhormat karena masyarakat yang berkarakter baik adalah simbol sebuah negara.
Dimana dunia internasional akan menatap kita sebagai negara yang berbudi
pekerti luhur dan bersahabat. Keramah-tamahan sebagian dari iman, yang menjadi
contoh kecil dari sebuah peribadatan. Sudah seyogyanya, kita menjaga sifat yang demikian.
Sifat nenek moyang kita yang selalu ramah dan
terbuka, menjadi jati diri sepanjang masa. Tentunya, jika sifat masyarakat kita
apatis, masa bodoh, justru akan menjadikan citra buruk bagi negara kita. Mari, kita
budayakan sifat ramah kepada sesama. (Husein, Bumiayu)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar