Rabu, 18 November 2015

INSPIRASI DARI UBUD

Keasrian Ubud, Bali, Indonesia

Indonesia merupakan negara di dunia yang kaya akan suku, bahasa, budaya, adat istiadat, juga tradisi yang diwariskan oleh leluhur yang secara turun-temurun secara alami. Keramahan dan keterbukaan menjadi ciri khas negara kita, dari zaman dahulu sampai sekarang. Suatu hal positif yang menjadi percontohan dan menjadi inspirasi bagi kita semua, masuknya kota Ubud Bali ke dalam 10 (sepuluh) kota teramah di dunia versi majalah pariwisata dunia CONDENAST TRAVELER yang berbasis di Amerika.
Survei tersebut menempatkan ubud di urutan ke-9 (kesembilan) sebagai tempat teramah di dunia. Selain dijadikan sebagai tempat untuk destinasi wisata, Ubud memiliki nilai akomodasi yang sangat tinggi. Keasrian alam serta keramahan warga merupakan sebuah fenomena yang tak dapat dipisahkan secara partial. Di ubud, sifat ramah seperti ini merupakan sebuah kewajiban bagi tiap-tiap warganya. Untuk menyambut kedatangan tamu-tamunya, “keramah-tamahan” merupakan sebuah kata kunci dan kunci sukses menuju kehidupan yang lebih baik. Begitulah yang tercetus dan telah “membudaya” bagi masyarakat sana, tanpa memandang suku, agama, ras dan bahasa dari mana pun datangnya.
Ubud menjelma sebagai tempat yang simbolis akan kerukunan antar umat beragama. Hal inilah yang menarik perhatian mata dunia. Artis kenamaan Julia Robert yang pernah bertandang kesana, sekaligus membuat film bertajuk “EAT, PRAY, LOVE” mengatakan “Ubud adalah surganya Asia”.
Berikut ini adalah daftar 10 kota teramah di dunia, versi majalah CONDENAST TRAVELER:
- Florianopolis, Brazil
- Hobart, Tasmania
- Thimpu, Bhutan
- Queenstown, New Zealand
- Charleston, South Carolina
- Paro, Bhutan
- Margaret River, Australia
- Kill Kenny, Irlandia
- Ubud, Bali, Indonesia
- Chiangmai, Thailand

Ubud Bali
Meski berada pada urutan ke-9, hal ini tak mempengaruhi niat baik warga ubud. Hal yang cukup membanggakan warga negara kita ini. Semestinya semangat ini dapat ditularkan ke setiap individu yang berada di Indonesia. Hal ini juga merupakan sebuah inspirasi baik yang membuat kita lebih terhormat karena masyarakat yang berkarakter baik adalah simbol sebuah negara. Dimana dunia internasional akan menatap kita sebagai negara yang berbudi pekerti luhur dan bersahabat. Keramah-tamahan sebagian dari iman, yang menjadi contoh kecil dari sebuah peribadatan. Sudah seyogyanya, kita  menjaga sifat yang demikian.

Sifat nenek moyang kita yang selalu ramah dan terbuka, menjadi jati diri sepanjang masa. Tentunya, jika sifat masyarakat kita apatis, masa bodoh, justru akan menjadikan citra buruk bagi negara kita. Mari, kita budayakan sifat ramah kepada sesama. (Husein, Bumiayu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar