Minggu, 18 Oktober 2015

PAHAMILAH DAHULU, BARU BERPENDAPAT



Kita seringkali mendengar bahwa bila seorang perempuan hamil berumur tujuh bulan, maka diadakanlah upacara mitoni yang berisi acara tasyakuran guna bersyukur kepada Tuhan YME dan dengan maksud berdoa agar calon anaknya kelak diberikan sesuai apa yang didoakan oleh orang tuanya dalam pengharapannya.
Berbagai macam cara dan praktek upacara mitoni, yang dilakukan orang tua guna untuk bersyukur kepada Tuhan YME. Ada yang melakukan upacara mitoni dengan pembacaan maulid simtud duror atau barzanji beserta rebana dengan ketukan ritmisnya yang rancak. Pembacaan maulid Kitab maulid ini berisi tentang sejarah Nabi Agung Muhammad saw dan kisah hidup beliau sebagai pemimpin umat Islam. Ini merupakan salah satu aplikasi kecintaan kita terhadap Baginda Agung Rasulullah Muhammad saw. Dengan pembacaannya kita dapat mengetahui detail kisah historis dari sang Baginda Rasul saw. Dalam peringatan upacara mitoni, pembacaan kitab ini merupakan doa orang tua kepada Tuhan, agar nantinya sang janin dapat meniru keteladanan sang Baginda Rasul saw, diaplikasikan dalam kehidupannya.
Ada pula yang memperingati mitoni dengan upacara adat, dengan menggambar tokoh wayang arjuna yang ditorehkan pada kelapa muda (cengkir gading), dengan ubo rampe-nya. Tentu saja hal ini jangan dipahami sebagai perbuatan syirik (menyekutukan Tuhan). Hal ini merupakan wujud doa oleh orang tua kepada Tuhan, yang diaplikasikan dalam wujud gambar wayang pada kelapa muda, agar nantinya sang anak lahir dan bentuknya rupawan seperti tokoh wayang arjuna, yang dielu-elukan setiap perempuan Jawa.
Ada pula pembacaan surat maryam dan yusuf, dengan maksud orang tuanya, agar nantinya anak apabila lahir dengan kelamin laki-laki maka dapat meniru Nabi Yusuf as yang terkenal ketampanannya. Atau bila bayi lahir dengan kelamin perempuan, setidaknya dapat meniru bunda sang Nabi isa as yang terkenal akan sikap taqwanya kepada Tuhan Sang Pencipta Alam semesta. Hal ini tentu saja merupakan sebuah doa orang tua, yang didasari penglihatan kedokteran dalam bentuk test USG tidak mampu memprediksi secara tepat kelamin janin yang nantinya akan dilahirkan secara sempurna dan sehat di dunia.
Dari tiga bentuk upacara mitoni yang berbeda, yang telah dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia ini. Semestinya kita sebagai warga Indonesia, patut berbangga diri dengan keanekaragaman budaya sebagai realitas yang telah terpatri di masyarakat. Seyogyanya pandangan kita jangan sempit dan mempersepsikan segala sesuatu yang tidak ada dalil nash Quran atau haditsnya pasti bertentangan dengan syariat hukum Islam. Bukankah semua tergantung dari niatnya (innamal a’malu bin niyat). Dan ranah adat budaya memang merupakan ranah bebas yang dapat diterjemahkan dalam multitafsir, karena Rasulullah saw adalah orang yang sangat amanah, apabila hal ini ditentang secara agama, tentu saja secara tegas dan jelas tertera dan pasti disampaikan oleh Baginda Rasul saw. Ada dalil kaidah fiqhiyyah, al-ashlu fil asya’i al ibahah, hatta yadzullu dalilu ‘ala tahrimiha (asal dari segala sesuatu itu boleh, selama tidak ada nash yang tegas dan jelas melarangnya).

Marilah kita selalu berpositif thinking dan memandang budaya sebagai keanekaragaman kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tercinta ini. Dan semoga, semua ibu hamil di Indonesia dan janinnya; yang akan memperingati tujuh bulanan atau mitoni, akan selalu sehat dan janinnya pula dalam keadaan sehat. Dan setelah lahir nantinya, menjadi generasi muda yang mampu menjadi pionir kebanggaan Agama, Negara, dan orang tua. Aamiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar