Kita seringkali mendengar bahwa bila seorang perempuan hamil
berumur tujuh bulan, maka diadakanlah upacara mitoni yang berisi acara tasyakuran guna
bersyukur kepada Tuhan YME dan dengan maksud berdoa agar calon anaknya kelak
diberikan sesuai apa yang didoakan oleh orang tuanya dalam pengharapannya.
Berbagai macam cara dan praktek upacara mitoni, yang dilakukan orang
tua guna untuk bersyukur kepada Tuhan YME. Ada yang melakukan upacara mitoni dengan pembacaan maulid simtud duror atau barzanji beserta rebana dengan ketukan
ritmisnya yang rancak. Pembacaan maulid Kitab maulid ini berisi tentang sejarah
Nabi Agung Muhammad saw dan kisah hidup beliau sebagai pemimpin umat Islam. Ini
merupakan salah satu aplikasi kecintaan kita terhadap Baginda Agung Rasulullah
Muhammad saw. Dengan pembacaannya kita dapat mengetahui detail kisah historis
dari sang Baginda Rasul saw. Dalam peringatan upacara mitoni, pembacaan kitab ini merupakan doa
orang tua kepada Tuhan, agar nantinya sang janin dapat meniru keteladanan sang
Baginda Rasul saw, diaplikasikan dalam kehidupannya.
Ada pula yang memperingati mitoni dengan upacara adat, dengan
menggambar tokoh wayang arjuna yang ditorehkan pada kelapa muda (cengkir
gading), dengan ubo rampe-nya.
Tentu saja hal ini jangan dipahami sebagai perbuatan syirik (menyekutukan
Tuhan). Hal ini merupakan wujud doa oleh orang tua kepada Tuhan, yang
diaplikasikan dalam wujud gambar wayang pada kelapa muda, agar nantinya sang
anak lahir dan bentuknya rupawan seperti tokoh wayang arjuna, yang dielu-elukan
setiap perempuan Jawa.
Ada pula pembacaan surat maryam dan yusuf, dengan maksud orang
tuanya, agar nantinya anak apabila lahir dengan kelamin laki-laki maka dapat
meniru Nabi Yusuf as yang terkenal ketampanannya. Atau bila bayi lahir dengan
kelamin perempuan, setidaknya dapat meniru bunda sang Nabi isa as yang terkenal
akan sikap taqwanya kepada Tuhan Sang Pencipta Alam semesta. Hal ini tentu saja
merupakan sebuah doa orang tua, yang didasari penglihatan kedokteran dalam
bentuk test USG tidak mampu memprediksi secara tepat kelamin janin yang
nantinya akan dilahirkan secara sempurna dan sehat di dunia.
Dari tiga bentuk upacara mitoni yang berbeda, yang telah dilakukan
oleh sebagian besar masyarakat Indonesia ini. Semestinya kita sebagai warga
Indonesia, patut berbangga diri dengan keanekaragaman budaya sebagai realitas
yang telah terpatri di masyarakat. Seyogyanya pandangan kita jangan sempit dan
mempersepsikan segala sesuatu yang tidak ada dalil nash Quran atau haditsnya
pasti bertentangan dengan syariat hukum Islam. Bukankah semua tergantung dari
niatnya (innamal a’malu bin niyat). Dan ranah adat budaya memang
merupakan ranah bebas yang dapat diterjemahkan dalam multitafsir, karena
Rasulullah saw adalah orang yang sangat amanah, apabila hal ini ditentang
secara agama, tentu saja secara tegas dan jelas tertera dan pasti disampaikan
oleh Baginda Rasul saw. Ada dalil kaidah fiqhiyyah, al-ashlu fil asya’i al ibahah,
hatta yadzullu dalilu ‘ala tahrimiha (asal
dari segala sesuatu itu boleh, selama tidak ada nash yang tegas dan jelas melarangnya).
Marilah kita selalu berpositif thinking dan memandang budaya
sebagai keanekaragaman kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia tercinta
ini. Dan semoga, semua ibu hamil di Indonesia dan janinnya; yang akan
memperingati tujuh bulanan atau mitoni,
akan selalu sehat dan janinnya pula dalam keadaan sehat. Dan setelah lahir
nantinya, menjadi generasi muda yang mampu menjadi pionir kebanggaan Agama,
Negara, dan orang tua. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar