Rabu, 18 November 2015

NILAI KEDAMAIAN TANTRAYANA

Ilustrasi Meditasi

Dalam sebuah pencerahan agama Budha, seorang biksu menerangkan bahwa ia setiap pagi sebelum beraktifitas, ia berniat melakukan 3 hal: pertama, menghilangkan perbuatan buruk; kedua, menambah perbuatan baik; ketiga, mensucikan hati dan pikiran.
Bagaimana cara meluruskan niat dalam agama Budha? Dijawab oleh biksu tersebut, bahwa bila ibarat kita menunggang kuda, setiap kali mengetahui bahwa arah kita telah berbelok arah, maka niat harus diluruskan. Dengan keyakinan yang kuat, maka kesulitan arah akan menjadi berkah menjadi kita, sebagai contoh: ada orang yang menghina kita, hal ini merupakan kesempatan kita, apakah kita akan marah dan kalah? Ataukah kita akan melatih kesabaran dari penghinaan tersebut.
Dilihat dari orang yang menghina kita, kita tak akan menjadi hina karena orang lain, justru kita akan menjadi hina oleh karena perilaku kita sendiri. Kita bisa ambil nilai positif dari sebuah batang kayu.
Kemudian bagaimana caranya menghindarkan emosi dan marah dalam kehidupan sehari-hari? Ada dua cara menghilangkannya, yakni pertama, dengan meditasi dengan tenang dan ambil nafas. Coba kita kita amati dalam diri kita, periksa sumbernya dari mana, apakah hati atau kepala. Kedua, dengan meditasi yang menitik beratkan pada pernafasan dengan interval waktu 2 detik. Ambil nafas 2 detik sambil mengucap kata budha, tahan nafas 2 detik sembari mengucap kata budha, serta keluarkan nafas 2 detik sembari mengucap kata budha. Pikiran yang timbul dalam diri kita ibarat buih air yang memiliki riak, maka tak akan tenang.
Bila kita bermeditasi dengan tenang dan mencoba mengatur diri kita untuk menenangkannya maka akan tenang. Berbeda halnya dengan orang yang emosi atau tergesa-gesa, maka irama nafasnya akan tersendat atau bisa dikatakan tidak tenang. Begitu pula halnya dengan jantung yang emosi, tak berirama dan tak tenang. Sumber mengaturnya pada teknik irama yang berinterval.
Orang gila atau tidak waras dapat dilihat kondisinya, secara prinsip akibat pasti ada sebabnya, bisa karena karma, trauma atau goncangan.
Secara umum, teknik tantrayana mencakup apa yang ada dalam diri dan hidup manusia, meliputi: tubuh, ucapan dan pikiran.
Meditasi yang baik meliputi: pertama, tubuh dengan sikap duduk yang baik, tubuh baik, udara masuk dan keluar lancar maka akan sehat. Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Kedua, ucapan yang baik merupakan doa, omani femehong. Ketiga, visualisasikan dalam meditasi, bahwa suatu yang suci (Tuhan) menyinari kita dengan sinar yang putih memancar.
Dari kebiasaan yang baik maka kita akan berbudaya baik. Budaya merupakan ruh jati diri suatu bangsa besar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar